Logo SantriDigital

Idul adha

Ceramah
F
Fikri
3 Mei 2026 4 menit baca 0 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِي...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: {إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ} (سورة الكوثر: 1-2). رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang terhormat para alim ulama, para kiai, para asatidz, asatidzah, yang kami takdzimi, Bapak Kepala Desa, Bapak-bapak perangkat desa, tokoh masyarakat, para bapak, ibu, hadirin-hadirat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala. Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah mempertemukan kita di hari yang penuh berkah ini, dalam keadaan sehat walafiat, untuk bersama-sama merayakan indahnya Idul Adha, hari raya kurban. Sungguh sebuah karunia yang tak terhingga, dapat berkumpul di majelis yang mulia ini. Hadirin sekalian, Hari ini kita merayakan Idul Adha, sebuah momen yang sangat sarat makna dalam ajaran Islam. Lebih dari sekadar perayaan, Idul Adha adalah panggilan akbar untuk meneladani kesabaran, ketakwaan, dan ketaatan total seorang nabi utusan Allah, yaitu Nabi Ibrahim Alaihissalam. Mari kita kupas lebih dalam esensi dan hikmah dari peringatan agung ini. Idul Adha, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban, mengingatkan kita pada ujian terberat yang dihadapi Nabi Ibrahim Alaihissalam. Ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan beliau untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail Alaihissalam, di usia yang sangat belia. Cobaan ini bukanlah semata-mata perintah untuk menyembelih, melainkan sebuah ujian sejauh mana kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya melebihi cintanya kepada harta benda, keluarga, bahkan diri sendiri. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah As-Saffat ayat 102: {فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ} Artinya: "Maka ketika anak itu sampai (usia) dapat berjalan bersama ayahnya, Ibrahim berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?' Ismail berkata, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang yang sabar'." Sungguh sebuah dialog yang sangat menyentuh hati. Nabi Ibrahim Alaihissalam diberi wahyu dalam mimpinya untuk menyembelih Ismail. Dan Ismail Alaihissalam, seorang anak yang begitu kecil, dengan penuh keikhlasan dan keyakinan berkata, "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang yang sabar." Apa yang kemudian terjadi? Ketika Nabi Ibrahim Alaihissalam bersiap melaksanakan perintah Allah, dengan pisaunya terhunus di leher Ismail, Allah Subhanahu wa Ta'ala, melalui malaikat Jibril, mengganti Ismail dengan seekor domba sebagai kurban. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah As-Saffat ayat 107: {وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ} Artinya: "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." Ini adalah inti dari Idul Adha. Tunjukkan bahwa cinta kita kepada Allah jauh melebihi segala sesuatu. Kurban dalam arti luas berarti mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sapi, kambing, atau unta yang kita sembelih adalah simbol dari pengorbanan diri kita dalam bentuk harta benda. Namun, yang paling utama adalah pengorbanan hawa nafsu, keserakahan, keakuan, dan segala hal yang menjauhkan kita dari Allah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang diriwayatkan oleh Al-Bara' bin 'Azib Radhiyallahu 'anhu: "Sesungguhnya amal pertama kali yang dilakukan pada hari kita ini adalah shalat, lalu kembali dan berqurban. Barangsiapa yang melakukan itu, sungguh ia telah berpegang teguh pada sunnah kita. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum itu, maka itu adalah daging yang dipersembahkannya untuk keluarganya, bukan dari bagian penyembelihan kurban." (HR. Bukhari dan Muslim) Artinya, setelah salat Id, amalan utama adalah menyembelih hewan kurban bagi yang mampu, sebagai bentuk ibadah dan mengikuti sunnah Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Hikmah lain dari Idul Adha adalah menumbuhkan semangat berbagi dan kepedulian sosial. Daging kurban yang kita sembelih tidak hanya untuk dinikmati keluarga, tetapi juga dibagikan kepada yang membutuhkan, yaitu fakir miskin dan kaum dhuafa. Ini adalah manifestasi nyata dari ajaran Islam tentang persaudaraan universal. Dengan berbagi, kita meratakan rasa cinta, kebahagiaan, dan keberkahan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 34: {وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ} Artinya: "Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan hewan kurban, agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang telah dianugerahkan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka ilahmu adalah ilah yang satu, oleh karena itu berserah dirilah kepada-Nya. Dan sampaikanlah (hai Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)." Mari kita jadikan Idul Adha ini sebagai momentum untuk merefleksikan diri. Sudahkah kita sekuat Nabi Ibrahim Alaihissalam dalam menghadapi cobaan? Sudahkah kita setulus Ismail Alaihissalam dalam berbakti? Sudahkah kita semurah hati kaum Muslimin dalam berbagi? Bagi kita yang berkecukupan, menyembelih hewan kurban adalah bentuk ketaatan dan rasa syukur. Bagi yang belum mampu, mari kita tingkatkan doa dan ikhtiar agar kelak bisa merasakan indahnya berkurban. Dan bagi yang sudah berkurban, jangan lupakan esensi utamanya, yaitu mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan hati yang ikhlas dan penuh kerendahan diri. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala menerima segala amal ibadah kita, menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa taat, sabar, dan gemar berbagi. Demikianlah tausiah singkat pada kesempatan ini. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada tutur kata yang kurang berkenan atau ada kekhilafan. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →